Sunday, March 27, 2016

Kisah adik kakak yg mengharukan

Kisah kakak dan adik yg mengharukan..

Aku terlahir di dusun pegunungan yang jauh dari Kota. Hawa di sini begitu dingin, jika hari berganti malam rasa dingin itu seperti menusuk tulang kecilku. Aku memiliki seorang Adik laki–laki yang berumur lebih muda 3 tahun dariku. Sepeninggal orangtua kami, kami ikut dengan Paman dan Bibi yang bertahun–tahun tidak memiliki buah hati. Paman bekerja di kebun teh milik juragan Herman dan Bibi hanya pembantu rumahan. Gaji mereka tidak seberapa, yang terpenting kebutuhan keluarga dapat tercukupi. Aku terdidik oleh Paman dengan cara yang keras. Jika kami bermalas–malasan, Paman tak segan untuk memukuli kami. Walaupun begitu, aku tahu Paman menginginkan kami menjadi orang yang sukses kelak.

Siang itu, cuaca tidak mendukung. Hujan deras disertai petir tak berhenti. Aku duduk terpaku di teras rumah. Beberapa anak kecil sebaya denganku memakai jaket melewati rumahku dengan payung di atasnya. Terbersit keinginan untuk memiliki jaket seperti yang dikenakan anak tersebut. Aku mencuri uang 75.000 rupiah milik Paman, dan berniat setelah hujan terang aku akan membelinya di pasar.
“Itu apa kak?” Tanya Adikku setelah aku sampai di rumah menenteng tas plastik pembumgkus jaket yang ku beli.
“Husst diam, ini namanya jaket. Lihat deh…” aku membuka tas plastik dan memakai jaket itu.

“Dari mana Kakak dapat uang untuk membeli jaket sebagus itu?” Tanya Adikku penasaran.
“Bagas, Kakak mencuri uang Paman.” Jawabku terus terang sambil memandangi cermin untuk berkaca.
“Apa? Paman kan galak, nanti Kakak dimarahin.” Adikku terduduk lesu sambil memandangiku yang masih mengenakan jaket.
“Tapikan Kakak pengen jaket ini, kalau kamu tidak bilang Paman semuanya akan baik–baik saja!” Jawabku setengah membentak.
“Baiklah kak, aku akan tutup mulut.” Ujar Adikku sembari menuntup menutup mulutnya pakai tangan.

Hari berubah menjadi Pagi. Paman memanggil aku dan Adikku menghadapnya di ruang tengah. Paman menyuruh kami berlutut menghadap tembok, dengan membawa ikat pinggang di tangannya.
“Siapa yang mencuri uangku? Dera! Bagas! Jawab pertanyaan Paman!” Bentak Pamanku, membuat aku dan Adikku menangis tersedu. Tidak ada jawaban di antara kami, aku terlalu takut untuk menjawab jujur.
“Baiklah kalau kalian tidak mau mengakui, kalian layak dipukul..” Paman mengangkat ikat pinggang itu, namun dicegah Adikku.

“Jangan pukuli kak Dera Paman! Aku mencuri uang itu untuk membelikan kak Dera jaket..” Aku terbelalak memandangi Adikku. Aku menggelengkan kepala tak percaya dia melindungiku.
“Kurang ajar! Apa kamu mau kita kelaparan demi sebuah jaket itu!” Ikat pinggang itu menghantam punggung kecilnya bertubi–tubi. Paman sangat marah hingga ia mencambuki Adikku hampir 10 menit lamanya.

Aku berlutut di hadapan Paman hendak mencium kakinya. “Cukup Paman, jangan lakukan lagi! Bagas masih kecil, tak pantas merasakan sakit ini…” Pintaku meraung raung, aku melihat Adikku, Adikku tetap tegar. Bahkan, aku tak menemukan setetes air mata membasahi pipinya.
“Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, besok kalau udah besar mau jadi apa kamu? Pencopet hah? Paman mendidik kamu untuk menjadi penjabat bukan penjahat!”

Malamnya, aku dan Bibi memeluk Adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan goresan bekas cambukan, namun ia tidak bersedih. Aku tak hentinya menangis menatapnya dengan pilu, sungguh pengorbanan yang luar biasa. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya. “Kakak jangan menangis, semua sudah terjadi.” sudut–sudut bibirnya menyungging membentuk sebuah senyuman yang indah. Aku membenci diriku sendiri karena tidak berani mengakui bahwa aku yang salah bukan Bagas. Bertahun–tahun telah berlalu, namun insiden itu masih aku ingat ketika Adikku melindungi aku. Saat itu aku berumur 11 tahun dan Adikku berumur 8 tahun.

Adikku telah lulus di jenjang SMP dan akan meneruskan SMA di Desa sebelah. Pada saat yang sama aku diterima di Perguruan Tinggi Negeri di Kota. Paman duduk di teras rumah sambil menghisap rok*knya. Aku mendengar beliau menggerutu dengan Bibiku di sampingnya.
“Kedua keponakan kita, Lulus dengan nilai yang terbaik..” Bibiku mengusap air matanya yang mengalir sambil menghela napas.
“Bagaimana mungkin bu? kita dapat membiayai keduanya sekaligus?” Pamanku mendesah. “Kalau mungkin kita dapat membiayai, hanya salah satu dari mereka saja yang dapat meneruskan. Dera atau Bagas?” tambah Paman.

Saat itu juga, Adikku menghadap Pamanku. “Paman, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi. Sudah cukup aku membaca buku milik kak Dera.”
Paman mengayunkan tangannya dan menampar wajah Adikku. “Mengapa kamu memiliki jiwa yang pecundang? Bahkan jika Paman terpaksa harus mengemis, Paman akan lakukan, untuk menjadikan kalian sukses. Pendidikan itu sangat penting!” Pamanku berlaku sambil menginjak putung rok*knya.
Aku memegang wajah Adikku yang membiru, bekas tamparan Paman. “Kamu harus meneruskan sekolah. Kamu harus jadi Arsitek, itu kan cita–citamu.” Adikku tersenyum memandangiku.

Keesokan harinya, Adikku tak ada di rumah. Ia kabur dengan beberapa pakaian. Aku menemukan secarik kertas di bawah bantalku.
“Kak Dera. Kakak tersayang. Kak, aku anak laki–laki. Aku akan bekerja mencari uang demi Kakak. Kakak harus nerusin ke Universitas itu. Kesempatan tidak datang 2 kali. Jangan cari aku, aku baik–baik saja. Kak.
Adikmu.”
Di kamar ini aku menangis memeluk secarik kertas dari Adikku. Aku begitu menyayanginya, sangat menyayanginya. Dengan uang yang Paman punya, dan kerja keras Adikku mengangkut semen di konstruksi pembangunan suatu gedung. Akhirnya aku telah mencapai semester ketujuh. Yang sebentar lagi aku akan diwisuda.

Suatu hari, aku tiduran di kostanku. Meemandangi foto aku dan Adikku saat kami masih kecil. Tiba–tiba, Reina teman kostanku memanggilku karena ada seseorang mencariku. Aku berjalan ke luar, memandangi punggung seseorang yang mencariku. Pakaiannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Dia membalik, aku terperangah karena orang tersebut adalah Adikku, Bagas.
“Bagas?” Aku berlari menangis memeluknya.
“Iya Kak?” Tangisanku tersedu mendengar suaranya. Yang lama tak terdengar di telinga ini.
“Kenapa kamu tidak bilang pada temanku kalau kamu adalah Adikku?” Tanyaku menggerutu. Dia tersenyum.
“Lihatlah penampilan aku, apa Kakak nggak malu jika mereka mengejek kalau aku adalah Adikmu?” Aku terenyuh, ku usap pakaian Adikku yang kotor itu.
“Kamu adalah Adikku, aku nggak mau menjadi Kakak yang durhaka. Biarlah mereka berkata apa, kau tetap Adikku, Bagas…” jawabku mengusap air mata yang menetes.

Adikku mengeluarkan sebuah tas plastik dari ranselnya. Memberikanku tas tersebut.
“Apa ini?” tanyaku penasaran.
“Baju, yang nggak mahal tapi cocok untuk Kakak kenakan untuk kuliah.”
“Makasih Bagas.” Setelah itu ia pamit untuk pulang ke rumah. Ku lihat punggungnya dari kejauhan. Aku berlari mengejar Adikku. Menariknya, dan menangis di pelukannya.

Setelah aku di wisuda, aku dilamar seorang pria yang mapan. Umurnya 2 tahun lebih tua dariku. Hari ini, kali pertamanya aku mengajaknya ke rumah. Kaca jendela yang terlah pecah diganti dengan yang baru, semua perkakas ditata dengan rapi. Setelah calonku pulang, aku menanyakan pada Bibi.
“Bibi, bibi nggak perlu repot-repot membersihkan rumah. Biarkan Dera yang membersihkan.”
“Dera, Adikmulah yang mebereskan rumah ini. Dia mengambil cuti karena ingin seharian merenovasi rumah ini.” jelasnya membuatku gugup. “Tangannya terluka ketika mengganti jendela.” tambah bibiku lagi.

Aku masuk ke kamar Adikku. Tubuhnya kurus tak terawat. Serasa beratus jarum menusukku. Ku kompres tangan Adikku dengan es batu untuk mengurangi rasa sakitnya.
“Sakitkah?” tanyaku.
“Tidak, Kakak tahu saat aku di kontruksi, kakiku kejatuhan semen dan batu–batu. Rasanya tidak sakit.” Aku menahan air mata untuk tidak menangis.
“Cukuplah kau berkorban demi aku.” aku berlalu meninggalkannya.

Ketika aku menikah, aku tinggal di Kota bersama suamiku. Aku terpaksa meninggalkan Paman, Bibi dan Bagas. Sesekali ku meminta mereka berkunjung ke rumah kami untuk melepas rindu. Suamiku bekerja menjadi direktur di pabriknya, Dia meminta Adikku menjadi manager, namun Adikku menolak karena ia tidak bisa melakukan apa–apa, karena ia memang tidak berpendidikan. Aku terus memaksa namun ia tetap menolak dengan berbagai alasan. Suatu hari, ada kecelakaan kerja di lokasi konstruksi dimana Adikku bekerja. Yang salah satu korbannya adalah Adikku sendiri. Aku melihat gips putih membungkus kaki Adikku.

“Seharusnya kamu menerima tawaran suamiku, menjadi manager tidaklah melakukan hal yang berat? Kalau saja kamu menerima, kamu nggak akan seperti ini.” gerutuku.
“Kakak iparku baru saja menjadi direktur, kalau saja aku menjadi manager yang hampir tidak berpendidikan, gosip apa yang akan terdengar di penjuru pabrik?” Dengan tampang yang serius, Adikku tetap membela.
“Kamu tidak berpendidikan karena aku!” bentakku, suamiku yang berada di sampingku menenangkan aku.
“Jangan ungkit masa lalu, aku melakukannya dengan ikhlas tanpa pamrih.” Aku menangis, mata suamiku berkaca–kaca.

Ketika Adikku berumur 30, ia menikah dengan gadis desa. Saat itu aku sudah memiliki seorang buah hati yang lucu, Keyna. Acara pernikahan Adikku tidak semeriah pernikahanku, namun dia terlihat bahagia menyalami penduduk dusun. Pembawa acara menanyakan kepada Adikku.
“Siapa orang paling terpenting di hidupmu?” tanya pembawa acara.
“Kakakku, kak Dera..” Jawab Adikku singkat. Ia menceritakan kisah waktu aku kita masih duduk di bangku SD dimana kisahnya sudah aku lupakan.
“Waktu itu, saat hujan turun aku lupa membawa mantel. Padahal jarak rumah kami sangat jauh dari rumah kami. Kakakku dengan senang hati memberikan mantelnya. Aku nggak bisa berbuat apa. Setelah pulang ke rumah. Tubuh Kakakku basah kuyup. Badannya demam tinggi hingga berhari–hari. Setelah kejadian itu, aku berjanji dalam hidupku untuk selalu menjaga Kakak..”

Tepuk tangan tamu membanjiri ruangan itu, aku menangis tersedu memandangi Adikku.
“Dan yang paling berharga adalah Adikku, dia rela berkorban demi aku. Sesungguhnya ketika aku mencuri uang Paman, Adikkulah yang mengaku bahwa dia yang mencuri. Pamanku mengajarinya untuk menjadi penjabat bukan penjahat. Paman mencambuk punggung Adikku agar tidak mengulanginya lagi. Hingga punggung Adikku penuh dengan luka. Aku sangat menyayangimu, Adikku…” seketika itu aku berlari memeluk Adikku..........

Saturday, March 26, 2016

kehidupan: I wish

kehidupan: I wish: I wish.... Ini adalah sebuah kisah yang dialami oleh seorang perawat. Perawat ini sudah bekerja bertahun-tahun di perawatan paliatif (peraw...

I wish

I wish....

Ini adalah sebuah kisah yang dialami oleh seorang perawat. Perawat ini sudah bekerja bertahun-tahun di perawatan paliatif (perawatan kesehatan terpadu yang bersifat aktif dan menyeluruh, dengan pendekatan multidisiplin yang terintegrasi).

Seperti yang dilansir oleh web... banyak sekali pengalaman yang dialami oleh perawat ini. Salah satunya adalah berhadapan dengan pasien-pasien yang sudah bersiap menjemput ajal.

Perawat ini pun pernah menanyakan apa saja yang disesali oleh para pasien yang rupanya sudah berada di ujung hayat mereka. Dan ini dia lima jawaban paling umum yang diberikan oleh pasien-pasiennya sebelum akhirnya ajal datang menjemput.

1. I wish I’d had the courage to live a life true to myself, not the life others expected of me.

Ini adalah rasa penyesalan paling umum yang dirasakan oleh para pasien. Saat tahu bahwa ajal akan datang menjemput, kebanyakan manusia akan menyesal kenapa dulu tidak melakukan hal-hal disukai, tidak mewujudkan impian-impian besar yang dimiliki. Ketika sudah jatuh sakit dan tahu bahwa ajal akan segera datang, rasa sesal kenapa dulu tidak berani untuk memperjuangkan hal yang diinginkan seringkali menghantui.
2. I wish I didn’t work so hard.

Penyesalan ini datang dari setiap pasien pria yang ditemui perawat tersebut. Banyak orang yang merasa bahwa merasa sangat menyesal karena terlalu gila kerja sampai lupa akan pentingnya mengasuh anak, mengontrol tumbuh kembang anak, dan juga menghabiskan waktu dengan keluarga.
3. I wish I’d had the courage to express my feelings.

Banyak orang yang memendam dan menyembunyikan perasan agar tidak berkonflik dengan orang lain. Akibatnya mereka jadi merasa tidak bisa menjadi diri sendiri. Apalagi banyak sekali penyakit yang diakibatkan oleh eksrepsi atau emosi yang terus dipendam dan disembunyikan selama bertahun-tahun. Ada saatnya kita untuk jujur pada orang lain dan juga pada diri sendiri dalam mengungkapkan apa yang sebenarnya kita rasakan.
4. I wish I had stayed in touch with my friends.

Banyak orang yang merindukan sahabat-sahabatnya saat berada di ambang kematian. Rasa rindu akan kasih sayang dan cinta dari orang-orang terdekat bisa semakin menyiksa orang yang tahu bahwa dirinya tak akan bertahan hidup lama di dunia. Rasa sesal karena dulu tidak menjaga ikatan persahabatan dengan baik ini dirasakan oleh banyak sekali pasien.
5. I wish that I had let myself be happier.

Pernyataan ini termasuk yang paling mengejutkan. Rupanya banyak orang yang baru menyadari hal ini ketika mereka sudah tak berdaya dan menanti ajal menjemput. Terjebak dalam rutinitas dan hidup yang itu-itu saja telah membuat banyak orang tidak bisa merasa bahagia dan pada akhirnya menciptakan rasa sesal.
Hidup ini sebenarnya adalah pilihan. Setiap orang punya hidupnya sendiri-sendiri. Jadi kita perlu memilih secara sadar, jujur dan bijak. Yang terpenting pilihlah KEBAHAGIAAN dalam kehidupanmu. Penyesalan selalu datang di akhir, kalau di awal itu namanya pendaftaran! Hehehe…demikian salah satu joke yang pernah saya dengar.

Tuesday, March 22, 2016

Sesuatu yg berharga

Seorang pemuda membawa ayahnya yang telah tua dan agak pikun ke sebuah restoran terbaik di kotanya. Ketika makan, tangan sang ayah gemetar sehingga banyak makanan tumpah dan tercecer mengotori meja, lantai, dan bajunya sendiri. Beberapa pengunjung restoran, melirik situasi tersebut.

Namun pemuda itu terlihat begitu tenang. Ia membantu dengan sabar dan menanti sang ayah selesai makan. Setelah selesai, ia membawa sang ayah ke kamar mandi, untuk dibersihkan tubuh dan pakaiannya dari kotoran. Setelah itu, ia mendudukkan ayahnya kembali di kursi, dan dengan tenang ia pun membersihkan makanan yang tercecer di sekitar meja tempat ayahnya makan, Kemudian, ia membayar tagihan makan malam pada kasir restoran itu, menghampiri ayahnya, dan menuntunnya keluar.

Pemilik restoran yang sedari tadi mencermati perilaku pelanggannya ini, bergegas keluar menyusul si pemuda yang sedang menuntun ayahnya itu. Setelah berhasil menyusul, ia berkata, “Terima kasih, Anda telah meninggalkan sesuatu yang berharga di restoranku.”

Pemuda itu balik bertanya, “Memangnya barang berharga apa yang aku tinggalkan…?”

Sambil menepuk pundak si pemuda, pemilik restoran berkata, “Engkau telah meninggalkan pembelajaran yang mahal pada kami semua, tentang luhurnya nilai berbakti kepada orang tua.”

“Bakti” bagi setiap orang terhadap orangtuanya, tentu tidak sama satu sama lain, karena situasi yang berbeda-beda. Tapi yang pasti: bakti adalah hal yang tidak bisa kita abaikan. Seburuk apa pun rupa maupun kondisi orangtua kita, mereka tetap layak dan harus dihormati.


Sedih dan mengharukan

Hingga nafas ini habis...

“Kita pernah coba hempas, kita pernah coba lawan, kita pernah coba melupakan rasa yang menghadang. Kau bilang perbedaan ini bagaikan jurang pemisah maka biarkan aku menyeberang dan coba berjuang. Tetaplah di sini, jangan pernah pergi meski hidup berat kau memilikiku. Ketika kau sakit ketika hatimu terlukaku kan menjagamu hingga napas ini habis.”

Lagu dari Fiersa Besari ini berhasil menjatuhkan air mata Freya yang saat itu baru berpisah dengan kekasihnya.

Lagu ini adalah lagu favorit Freya sebelum tidur. Lagu ini pula yang menjadi lagu favorit Andre saat masih berpacaran dengan Freya. 2 tahun sudah Andre dan Freya berpacaran. Namun hari ini Freya harus melepaskan dia pergi. Andre adalah lelaki sempurna baginya. Dia baik, perhatian dan sudah pasti menyayanginya. Freya tak menduga bahwa pertemuan mereka di taman itu akan jadi pertemuan terakhirnya dengan Andre.

Air mata Freya kini mengalir deras saat dia melihat boneka doraemon yang diberikan Andre pada anniversarry mereka yang kesatu tahun. Gadis berusia 17 tahun ini baru pertama kali pacaran dan baru pertama kali patah hati. Andre adalah cinta pertamanya saat ia baru masuk SMK. Mereka tinggal di jurusan dan kelas yang sama selama 3 tahun berturut-turut. Satu kata yang tak bisa Freya lupakan dari Andre adalah, “Aku bakalan jaga hubungan kita sampai kita tua nanti Frey. Aku janji.” Andre adalah lelaki pertama yang bisa menyentuh hatinya.

“Frey, kamu kenapa?” tanya seorang laki-laki yang sedang menemaninya di kantin itu.
“Aku nggak apa-apa Ndre,”
“Kok muka kamu pucet. Mata kamu juga sembab. Kamu sakit? Atau abis nangis?”
“Aku nggak apa-apa kok sayang,” Freya tersenyum sambil memegangi tangan Andra.
“Frey kamu sayang nggak sama aku?” entah mengapa pertanyaan Andra itu justru membuatnya bingung.

“Andra suka sama kamu Frey.”
“Apa? Andra suka sama aku? Tapi Ndra aku..” ucapan Freya terpotong.
“Aku tahu, ini juga berat buat aku. Demi Tuhan aku sayang sama kamu Frey tapi Andra itu saudara kembar aku dan aku gak bisa nyakitin dia,” Andre menatap Freya dengan serius.
“Ndre..” air mata Freya kini tak tertahan lagi.

“Aku tahu, aku adalah adiknya Andra dan harusnya dia yang mengalah. Tapi Frey, Andra itu selalu berkorban buat aku dari aku kecil. Aku mohon sama kamu, demi hubungan kita kamu mau kan terima Andra?” Freya hanya bisa menangis saat mendengar perkataan dari Andre. Hatinya sakit seakan ditusuk duri.
“Frey, aku nggak ada pilihan lain. Semenjak kematian gita 3 tahun lalu, Andra gak pernah seceria ini Frey. Aku gak bisa ngancurin hati dia kalau dia tahu kamu itu pacar aku,” kini air mata Andre ikut menetes di pipinya, “Please Frey, lakuin ini demi aku. Aku gak punya pilihan lain selain ini aku mohon.”

Freya menatap Andre dengan penuh harap agar Andre tidak meminta Freya untuk mencintai kakak kembarnya.
“Iya Ndre. Aku akan coba mencintai Andra seperti aku mencintai kamu,” akhirnya Freya mengabulkan keinginan Andre walau itu harus mengorbankan hati dan perasaan dia sendiri.
“Makasih banyak ya Frey, makasih,” Andre mengusap air mata Freya dan memeluknya erat. Jujur saja Andre tidak bisa merelakan Freya. Namun demi kebahagiaan kakaknya, Andre harus rela melepas wanita yang dia anggap cantik setelah almarhumah ibunya.

“Frey? Kok nangis?” Andra menyentuh pipi Freya yang kini berlinang air mata. Seketika itu Freya sadar dari lamunannya dan langsung menghapus air matanya.
“Aku nggak apa-apa kok,” Freya memperlihatkan senyum kepada Andra untuk menenangkan hati Andra.
“Kamu belum jawab pertanyaan aku loh Frey,” ucap Andra pelan.
“Iya Ndra aku sayang sama kamu kok,”
“Aku sayang kamu Frey. Jangan tinggalin aku yah cantik.” Andra mengelus rambut panjang Freya dengan lembut. Freya hanya tersenyum getir.

Andra dan Andre terpisah sejak mereka kecil. Andre tinggal di bandung bersama papanya sedangkan Andra tinggal di surabaya bersama almarhum mamanya. Setelah sang mama meninggal, barulah Andra pindah ke bandung dan kini satu rumah dengan Andre. Orangtua mereka sudah bercerai sekitar 13 tahun lalu dan mereka tidak pernah mempunyai ibu atau ayah tiri.

—

Dengan panik Freya berlari menuju lapangan basket. Entah apa yang ia cari saat itu yang pasti Freya tak akan menemukannya. “Dav, Andre ke mana sih? Udah 3 hari ini nggak sekolah?” tanya Freya pada David sahabat dekat sekaligus teman sebangku Andre. “Lo emang gak tahu Frey? Andre kan pindah ke surabaya. Katanya dia mau nemenin neneknya,” ujar David sambil memainkan bola basketnya.
“Apa? Andre pindah ke surabaya? Kok dia nggak ngabarin gue sih Dav?”
“Ya iyalah Frey jelas dia nggak kasih kabar ke lo. Andre gak mau lo nyari dia lagi Frey. Dia pengen lo belajar mencintai Andra yang sekarang udah jadi pacar lo.” David berbicara agak sedikit pelan karena takut ada orang yang mendengar atau Andra yang kebetulan lewat lapangan basket itu.

Freya berlari meninggalkan lapangan basket itu dan menuju ke kelas. Air mata itu pun jatuh lagi di pipi Freya yang pucat itu. “Udah Frey lupain Andre ya,” Dita mencoba untuk menenangkan sahabatnya dengan membawakannya mocachino kesukaan Freya. “Gue sayang banget sama dia Dit,”
“Iya Frey gue paham. Bukan cuma lo kok yang sakit, Andre juga sakit Frey Andre juga rasain apa yang saat ini lo rasain,”

“Udah ya Frey jangan nangis aja. Nanti lo sakit kalau nangis terus.” Dita mencoba menahan titik air mata yang hampir menetes di pipinya itu. Hujan mengguyur kota bandung dan sekitarnya pada malam itu. Freya berjalan tak tahu arah akan ke mana. Air mata yang deras mulai membasahi pipi Freya. Ia tak peduli seberapa deras hujan malam itu. Yang ia tahu, rasa rindunya terhadap Andre lebih deras dari hujan itu.

“Frey… Freya ayo pulang Frey,” Dita berlari ke arah gadis berkulit putih itu sambil membawa sebuah payung.
“Gue nggak mau pulang Dit,” Freya mulai menjatuhkan badannya ke aspal dan menangis sejadi jadinya.
“Frey, Andra ada di depan rumah lo,” ujar dita sambil berjongkok dan memayungi sahabatnya yang kini mulai menggigil karena kedinginan.
“Dit..” Freya memeluk Dita sambil terus meneteskan air matanya.
“Ya udah, lo balik ya. Gue nggak mau lo sakit.” Freya menganggukkan kepalanya dan berdiri. Dita lalu menuntun Freya berjalan ke rumahnya.

“Ndre, makan yuk?” ucap seorang wanita yang terlihat sudah berumur itu.
“Andre belum laper Nek. Nenek aja duluan yah,” Andre tersenyum ramah sambil memegangi tangan neneknya.
“Kamu sudah 3 hari nggak makan loh. Masa sih kamu nggak lapar?”
“Nanti aja Nek. Andre mau istirahat aja, ngantuk.” Andre berjalan pelan menuju kamarnya. Hanya satu yang terlintas di pikirannya yaitu Freya. Wanita yang sudah menjadi milik kakaknya itu kini terbayang dalam ingatan Andre. “Maafin aku Frey, aku nggak ada maksud nyakitin kamu. Tapi ini demi hubungan kita.”

—

“Frey, happy monthsarry yang ketiga ya sayang,” Andra memberikan sebuah mawar putih untuk Freya.
“Makasih ya dra,” Freya tersenyum sambil mencium mawar itu.
“Kita makan yuk?”
“Emm.. Ayo deh,” Freya dan Andra lalu pergi ke sebuah restoran yang lumayan bagus.
“Kita ke sini?” tanya Freya heran.
“Ya sayang. Kamu suka nggak tempatnya?”
“Kita di mana sih Ndre? Kok mata aku ditutup gini?”
“Kamu buka penutup matanya.”

Andre tersenyum sambil membantu membuka penutup mata Freya.
“Surprise!!” Andre nampak bahagia bisa mengajak Freya ke tempat itu.
“Ndre ini bagus banget,” Freya terlihat takjub melihat sebuah restoran mewah yang sudah Andre rancang tempatnya itu. “Aku nabungin uang jajan aku selama 3 minggu buat nyiapin ini. Dan aku puas saat lihat kamu bahagia hari ini. Happy anniversarry 1 years ya sayang.” Andre memberikan boneka doraemon kepada Freya. “Makasih ya sayang. Aku bahagia banget.” Freya memegangi tangan Andre dengan lembut.

“Frey? Kok nangis?” ucapan Andra barusan sepertinya mengagetkan Freya yang sedang melamun.
“Aku nggak apa-apa kok Ndre eng, Ndra,” untunglah Andra tidak mendengarkan kesalahan dalam ucapan Freya tadi.
“Ya udah kita makan yuk?” Andra menggenggam tangan Freya dan mengajaknya makan malam berdua.
“Besok aku berangkat ke surabaya,” ujar Andra sambil mengemudikan mobilnya.
“Ngapain?” tanya Freya.
“Nengok Andre. Katanya dia sakit,” seketika jantung Freya berdetak lebih kencang dari biasanya.
“Apa? Andre sakit? Sakit apa Ndra? Andre kenapa?” kini kekhawatiran pun terlihat dari wajah Freya.
“Andre kena typus Frey. Kok kamu sepanik itu sih denger Andre sakit?” Andra sedikit heran dengan tingkah Freya yang aneh itu. “Eng..Engga kok. Andre itu sahabat aku.” Freya mencoba mencairkan suasana kembali.

Keesokan paginya Andra berangkat ke surabaya dengan mobilnya. Namun naas, kabar duka menghampiri Freya kala itu. Mobil Andra mengalami kecelakaan hebat hingga menyebabkan Andra kehilangan penglihatannya. 3 hari kemudian, Andra mendapat donor mata dan akhirnya bisa melihat lagi.
“Pa, siapa yang donorin mata untuk aku?” Tanya Andra pada ayahnya yang setia menunggunya di rumah sakit.
“Yang mendonorkan mata itu adalah Andre Adikmu nak,” kini ayah Andra menangis deras.
“Andre? Andre sekarang di mana Pa? Aku harus ketemu dengan Andre,” Andra berusaha bangkit dari ranjang rumah sakit itu. “Andre sudah tiada. Sebenarnya saat kamu kecelakaan, dia juga mengalami kecelakaan saat akan berangkat sekolah.”

Freya yang mendengar jelas perkataan Ayah Andra langsung menangis. Air matanya tak mampu dibendung lagi. Tubuhnya lemas. Seluruh badannya bergetar. Hatinya hancur seperti kehilangan semangat. Freya tak menyangka bahwa dia bukan hanya kehilangan kenangan bersama Andre. Namun kini ia sudah kehilangan separuh diri Andre.
“Frey, ini buat lo,” David memberikan surat untuk Freya.
“Ini apa?” tanyanya.
“Itu dari Andre Frey. Dia ngasih ke gue pas lagi dirawat di sini pas mau operasi. Frey sebenernya alasan Andre ninggalin lo bukan cuma karena Andra. Tapi Andre sakit Frey, dia terkena gagal ginjal dan dia gak mau bikin lo susah.” Freya menangis saat mendengar pernyataan David itu. 3 hari setelah itu, Freya mulai tenang dan sudah berani membuka surat dari Andre.

“Demi Tuhan aku tidak pernah menemukan wanita sekuat kamu. Aku tidak pernah menemukan wanita setegar dan sesabar kamu. Aku mencintaimu lebih dari kamu mencintaiku. Aku akan tepati janjiku aku akan menjagamu hingga napas ini habis. Bahkan saat napasku telah habis aku ingin terus menjagamu. Tolong, biarkan aku tetap menyayangimu, memelukmu, dan mencintaimu melalui mataku.”

“Berjanjilah untuk tidak meneteskan air mata kesedihan saat nanti mataku melihat wajahmu. Frey, andai aku bisa memilih aku lebih baik mati daripada melukaimu. Tapi kini aku melakukan keduanya dan aku mohon maafkan aku. Jika aku sudah pergi, berjanjilah untuk tidak menyakitinya karena air matanya adalah air mataku juga. Satu hal yang selalu kau ingat. Biarkan kisah kita tetap menjadi rahasia. Biarkanlah kamu dan mataku yang mengetahuinya. Freya aku mencintaimu hingga napas ini habis. Andre Aditya Reynaldi.”

Kisah sang motivator...


Sunday, March 20, 2016

Amy

Pada suatu hari yang panas tahun 1984, orang-orang di sebuah kota kecil di New Mexico mengawasi saat seorang pelari muda yang kuat mengoperkan obor Olimpiade ke pelari berikutnya, Amy yang berumur sembilan tahun. Dengan keadaannya yang cacat dan bungkuk, Amy telah lama sekali ingin membawa obor itu dalam perjalannya dari Atena ke Los Angeles. Ketika ia memegang obor yang berat itu, ia harus memegangnya dengan kedua tangannya. Ia tidak memiliki kekuatan maupun ketangkasan seperti pelari sebelumnya.

Banyak orang yang kemudian meneriakkan kata-kata penyemangat, tetapi hanya sedikit yang menganggap ia dapat menyelesaikan jarak yang harus ditempuhnya. Mereka tidak tahu bahwa Amy sangat ingin menyelesaikan tantangan itu. Ia menginginkannya lebih dari apapun di dunia ini. Ia dan ibunya telah mengumpulkan uang untuk membayar tiket masuk seharga $3000 dengan berjualan dan mengadakan garage sale di halaman depan mereka. Amy berlatih selama setahun dengan palu seberat 5 kg, tetapi tidak pernah sekalipun pada tahun itu ia mampu menyelesaikan jarak tersebut. Namun, semangatnya terus berobar, tak ada sikap menyerah dalam dirinya.

Saat orang banyak bersorak-sorai kepadanya, ia berlari dengan lambat tapi pasti. Herannya, kali ini Amy bisa menyelesaikan jarak yang harus ditempuh dan membuat semua orang takjub. Ia telah mengatasi cacat tubuhnya dan melakukan apa yang tampaknya mustahil.

________________________________________

Tidak ada yang mustahil saat kita meletakkan semua cita-cita, harapan dan apapun yang menjadi impian kita kedalam tangan Tuhan,  pasti itu akan menjadi kenyataan ! Hanya seringkali pada saat kita memilki impian dan kita gagal meraihnya, maka semangat, harapan dan doa kitapun ikut menjadi buyar bersama mimpi kita tersebut. Kita harus memiliki mental baja yang tahan banting seperti Amy di kisah ini,

Ada kalimat motivasi “PEMENANG BUKANLAH ORANG YANG TIDAK PERNAH GAGAL TETAPI ORANG YANG TIDAK PERNAH MENYERAH” Kita harus terus melangkah, jangan pernah berhenti ada banyak hal yang bisa membuat langkah kita terhenti. Tetaplah fokus dan teruslah berdoa agar Tuhan senantiasa memberikan kekuatan, hikmat dan jalan keluar disaat jalan rasanya menjadi buntu.

Kesuksesan bukan sebuah dongeng orang-orang, sebuah keberhasilan itu bukan nasib atau takdir, tetapi merupakan perjalanan hidup yang pantang menyerah disertai doa kepada Tuhan..tetap semangat !