Saturday, November 25, 2017

Kebaikan itu masih ada

Pernah punya masalah yang sulit dihadapi? Kisah berikut ini akan mengajarkan kita untuk jangan putus asa ketika ditimpa sebuah masalah.

Hidup ini tidak mudah, kita tentu sangat paham hal ini. Belakangan semuanya menjadi lebih terasa sulit, bahkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokok saja kita harus berjuang mati-matian.

Harga yang mahal, pekerjaan yang sulit di dapatkan, atau bahkan berbagai masalah yang terjadi di tengah-tengah keluarga kita selama ini juga terasa begitu melelahkan. Lalu, haruskah kita mengambil berbagai tindakan yang mudah untuk mengatasinya?

Kisah Seorang Janda Muda

Kisah ini terjadi di Kansas, Amerika Serikat. Seorang janda muda yang memiliki enam orang anak sedang mengalami masalah keuangan yang sangat berat.

Ia tak lagi bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya, bahkan untuk sekedar memberi mereka makanan yang layakpun ia sudah tidak mampu. Beban hidupnya sebagai orangtua tunggal begitu berat, setelah kematian suaminya beberapa waktu yang lalu, ia harus menghidupi 6 orang anak berusia antara 2,5 hingga 15 tahun.

Sarah Robinson, begitu nama wanita itu. Suatu hari ia mendatangi sebuah supermarket besar di kotanya, dengan harapan ia dapat menemukan berbagai kebutuhan anak-anaknya di sana. Tak ada uang yang dibawanya, dan ia mengambil sejumlah barang di sana tanpa membayarnya.

Miris memang, mengingat keenam anaknya sangat membutuhkan makanan serta barang lainnya seperti popok dan pakaian hangat. Sementara, ia sendiri tidak memiliki uang untuk membeli semua kebutuhan tersebut. Seperti dugaannya, petugas toko memergoki perbuatannya dan segera melaporkannya kepada polisi setempat.

Rasa takut akan dimasukkan ke dalam penjara dan juga khawatir terhadap kondisi anak-anaknya, membuat wanita ini tak bisa menahan airmatanya.

Perbuatannya jelas salah dan itu diakuinya dengan penuh penyesalan. Sarah semakin ketakutan ketika Mark Engravelle yang bertugas di kepolisian Kansas datang dan akan menangani kasusnya. Bayangan borgol dan penjara semakin jelas di matanya.

Namun semua tak seperti dugaannya, sebab polisi yang bijak ini hanya melakukan interogasi tanpa memborgol kedua tangan Sarah.

Ia kemudian mengantarkan wanita tersebut kembali ke “rumahnya” yang hanya berupa sebuah mobil, sebab setelah kematian suaminya ia harus kehilangan rumahnya dan terpaksa tinggal di mobil bersama dengan anak-anaknya.

Mark meresa trenyuh dan sedih melihat kondisi anak-anak Sarah yang begitu menyedihkan, bahkan mereka tak memiliki sepatu dan hanya bertelanjang kaki saja.

Polisi ini membawa Sarah dan anak-anaknya kembali ke supermarket tersebut, dan membelikan mereka sepatu serta beberapa makanan yang dibutuhkan oleh mereka.

Ia juga membelikan beberapa barang yang tadinya akan dicuri oleh Sarah beberapa waktu yang lalu, agar wanita itu bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya selama beberapa waktu ke depan.

Sarah telah menyadari kesalahannya dan ia menyesal atas perbuatan yang sempat dilakukannya. Wanita ini juga mengucapkan terima kasih kepada Mark yang telah begitu baik dan mau membantunya, meski ia telah berbuat kesalahan sebelumnya.

Lalu, Mark membawa mereka kembali dan kisah ini kemudian diketahui oleh banyak orang di wilayah tersebut.

Kantor polisi tempat Mark bekerja menerima banyak sekali telepon dari masyarakat sekitarnya, mereka ingin membantu Sarah dan membuat hidup wanita itu dan anak-anaknya menjadi lebih layak. Banyak bantuan yang datang setelah kejadian tersebut dan Sarah sangat bersyukur atas semua itu.

Seperti kisah hidup Sarah Robinson yang begitu berat, kita juga mungkin akan memiliki sejumlah masalah dan cobaan dalam hidup ini. Jangan putus asa dan mudah menyerah, sebab masih ada kebaikan yang akan selalu datang di dalam kehidupan kita.

Wednesday, August 23, 2017

Dongeng yg bagus

Ini cerita dari Jepang kuno.

Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

“Bu, kita sudah sampai”,kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.
Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:”Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan”.

Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan ,merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

_______________________________________________________

Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita di atas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja.

Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disaat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.

Thursday, June 8, 2017

Kisah si miskin yg suksess jd seorang dokter

Kisah seorang anak yg dalam kemiskinan pada akhirnya suksess jd seorang dokter..

Delapan belas tahun lalu  (catatan: penulis memuat tulisannya di tahun 2011)  adalah hari terberat yang pernah ada dalam hidup Anjali.

Seorang anak gadis yang hidup dalam kemiskinan, tinggal di bantaran kali dengan rumah terbuat dari kardus harus rela melepaskan kepergian sang Ibu tercinta. Ia sangat mencintai Ibunya lebih dari apa pun, tak pernah sepatah kata pun ia membantah perintah Ibunya, baginya Ibu adalah jantung kehidupannya.

Ibunya pun sangat mencintai nya lebih dari apa pun, terbukti dengan bagaimana Ibu Anjali berusaha, bekerja siang malam mengelilingi kota memulung sampah, botol, dan kardus-kardus bekas yang akan di jual demi sesuap nasi dan menyekolahkan Anjali. Anjali merasa sangat berdosa besar jika harus melawan orang tua apalagi menyakiti hati Ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan segala keterbatasan.

Karena itu Ia berjanji pada dirinya tidakan pernah sedikit pun berani melawan dan menyakiti Ibunya yang sudah tua dan bungkuk. Anjali tidak pernah malu jika sang Ibu mengantarnya ke sekolah dengan pakaian lusuh, kusut dan penuh tambalan, bahkan dengan penuh kebanggaan terlihat dari wajahnya karena ia masih memiliki seorang Ibu yang sangat mencintainya sejak ia menghirup udara dunia, walau Ayahnya telah pergi meninggalkannya ketika ia masih berumur dua tahun akibat kecelakaan.

Demi membahagiakan Ibunya ia belajar sungguh-sungguh, ia pun selalu menjadi juara kelas bahkan sesekali juara umum. Baginya mungkin hanya dengan prestasi sekolah yang bisa membahagiakan Ibunya, hanya itu yang bisa ia berikan kepada sang Ibu, karena dengan itu juga ia sedikit mendapat keringanan dalam biaya sekolah.

Kadang jika Ibunya sakit ia pergi keliling kota, memulung mencari botol dan kardus bekas di tempat pembuangan sampah, bahkan tak jarang ia terjerembab ke dalam tumpukan sampah karena tubuhnya SD nya yang masih kecil. Sehabis sekolah menjaga sebuah toko sebagai uang tambahan membeli buku sekolah atau buku yang sangat ia inginkan. Baginya dengan berusaha dan bekerja keraslah keinginannya akan terwujud.

Ia sangat beruntung memiliki orang tua yang peduli akan pendidikan anaknya, ia kadang sering menangis sendiri dalam malam gelap gulita sebelum azan subuh, ia selalu terpikirkan dengan anak-anak yang senasib dengannya yang hidup jauh di bawah garis kemiskinan namun hanya ia yang mampu sekolah.

Ia pun kadang menyempatkan waktu mengajarkan kawan-kawan sekitar rumahnya pelajaran matematika tanpa dibayar sesen pun, dengan begitu ilmunya semakin melekat, berkah dan bermanfaat. Semua pernak-pernik hidupnya berjalan seperti biasa hingga suatu yang paling ia takutkan menimpanya. Ya, sesuatu yang sangat ia takutkan adalah kehilangan satu-satunya orang tua yang sangat ia cintai, yang sangat ia sayangi. Baginya musibah terbesar dalam hidupnya adalah harus kehilangan Ibu di usianya yang masih muda, di saat ia akan menamatkan SD.

Ia ingin sekali ibunya melihat ia menjadi siswa terbaik se-provinsi dengan nilai yang tinggi dan masuk sekolah menengah pertama favorit di Jakarta, karena pemda Jakarta memberikan bea siswa penuh bagi 10 orang yang mampu mendapat nilai penuh dalam UN, yaitu semua nilai 10. Dan itu tinggal menunggu beberapa hari lagi setelah pengumuman kelulusan Sekolah Dasar.

Namun takdir berkata lain, seakan-akan menantang harapan serta keinginannya itu, yang bahkan berusaha menyurutkan dan menghancurkan semangat gadis kecil itu untuk sekolah dan melanjutkan ke SMP favorit. Karena satu-satunya alasan semala ini ia belajar sungguh-sungguh hanyalah untuk menyenangkan hati Ibunya sebagai balasan atas jasa-jasa Ibunya yang membanting tulang, berpeluh keringat, terbakar terik siang dan bungkuk akibat memulung dan membawa barang berat.

Ibunya meninggal bukanlah karena kecelakaan, serangan jantung atau kelaparan. Ibunya ternyata selama ini menyimpan rahasia pada Anjali. Ibunya selama ini menderita penyakit kanker serviks (kanker rahim) yang harapan untuk dapat disembuhkan sangat kecil bahkan bisa dikatakan mustahil karena 98% penderita penyakit ini berakhir dengan kematian.

Ia mengetahui itu dari pembicaraan rahasia Ibu-ibu tetangganya bahwa Ibunya terkena penyakit kanker ketika ada tes kesehatan pos kesehatan keliling dari pemda Jakarta. Ia terpukul karena rumah sakit di daerahnya belum memiliki pengobatan yang canggih untuk mengobati penyakit yang mamatikan ini, walau pun sebenarnya bisa dikirim ke rumah sakit yang lebih besar jika ada uang.

Dan lebih terpukul lagi karena ia sadar, ia bukanlah orang kaya yang bisa membayar segala macam pengobatan, ia juga sadar apalah arti nyawa seorang pemulung di mata para dokter dan pemerintah, hanya menghabiskan tenaga dan waktu serta uang pemerintah. Gadis kecil ini menangis sejadi-jadinya di tengah malam setelah Ibunya dikuburkan di pemakaman orang-orang miskin yang sekedarnya.

Ia limpahkan semua isi hati dan pikirannya pada Ilahi. Ia yang dulunya belajar dan sekolah semata untuk membahagiakan Ibunya, kini berubah akan belajar dan bekerja mati-matian demi meraih cita-citanya, yaitu menjadi seorang dokter oncologi, dokter ahli special kanker. Apa pun yang terjadi dia akan berusaha mati-matian demi menjadi dokter spesialis kanker yang akan menyembuhkan seluruh macam penyakit kanker dengan segala kemungkinan yang ada.

Dan tidak hanya itu, ia pun berjanji akan menolong sukarela siapa pun orang yang terkena penyakit kanker, apakah mereka orang kaya atau miskin. Janji-janji yang ia buat, yang ia sampaikan di tengah malam pada Tuhan pada umur 12 tahun kini terpenuhi. Anjali dulu gadis kecil yang miskin dan kumuh kini sudah menjadi gadis dewasa yang cantik, baik dan kaya raya namun sederhana. Ia telah mewujudkan cita-citanya atas izin Tuhan melewati ujian-ujian besar dalam hidupnya.

Baginya pendidikan tidak hanya diperuntukkan orang kaya, siapa pun boleh bercita-cita. Di umurnya yang masih muda (27) Ia menjadi dokter spesialis kanker ternama di rumah sakit terbesar di Jakarta dan menjadi dosen tetap di Universitas terkenal di Jakarta. Ia membangun yayasan sosial untuk anak-anak miskin dann terlantar. Dengan kerendahan hati, ia bersama teman-teman dan bawahannya melakukan pos kesehatan keliling gratis ke daerah-daerah yang kehidupannya sangat memprihatinkan.

Ia mampu menyelesaikan sarjana kedokterannya di Universitas terkenal dan ternama di Jerman, bahkan menjadi wisudawan terbaik dan banyak rumah sakit besar di Jerman dan menawarkan dirinya. Tapi ia lebih memilih tanah air yang telah membesarkannya, tempat ia dibesarkan bersama Ibunda tercinta, tempat dimana banyak nyawa orang miskin yang terancam kematian tanpa pengobatan.

Sunday, April 9, 2017

Shamila

Dulu ada penglima pasukan di Rusia namanya Shamila. Karena pemerintahan kaisar waktu itu sangat otoriter maka dia bersama pasukannya lari ke padang gurun untuk melakukan konsolidasi melawan kaisar. Karena ada di padang gurun maka semua makanan harus dihemat supaya seluruh pasukan bisa bertahan hidup.

Suatu ketika ada laporan bahwa sekarung beras telah hilang. Shamila marah, ia memberi peringatan kepada seluruh pasukannya, “Siapa yang mencuri beras akan dihukum cambuk 50 kali”

Hari berikutnya ada sekarung beras lagi yang hilang. Shamila sangat marah kemudian dia memerintahkan pasukannya, “Siapapun yang mencurinya, tidak peduli pria atau wanita, muda atau tua harus dihukum cambuk 50 kali.” Shamila kemudian memerintahkan pasukan untuk mencari pencurinya.

Beberapa saat kemudian anak buahnya datang: “Panglima ada kabar baik, pencurinya sudah ketemu”. Shamila menjawab: “Bagus”

Anak buahnya menjawab lagi: “Tetapi ada berita buruknya, Panglima “. Shamilla menjawab lagi: “Apa itu ?”

Anak buahnya menjawab lagi, “Yang mencuri adalah ibu Panglima”.

Shamila terdiam, dia bingung, ibunya sudah lanjut usia, kalau diberi hukuman, jangankan 50 kali cambukan, 2 kali cambukan saja ibunya pasti meninggal. Tapi kalau tidak dihukum, ia tidak adil. Akhirnya Shamilla berkata: “Keputusan ditunda besok pagi”

Semalaman ia berpikir keras bagaimana mengambil keputusan. Seluruh pasukan juga bingung, ada yg tidak tega kalau ibunya dihukum, ada yang bersikeras yang bersalah harus dihukum.

Akhirnya pagi hari tiba. Seluruh anggota pasukan berkumpul. Semua mata menatap kepada Shamilla menanti keputusan yang akan diambil. Shamila maju dan berkata: “Seperti yang sudah ditetapkan yang mencuri beras harus dihukum cambuk 50 kali. Pasukan, bawa pencurinya ke depan”. Kemudian pencurinya yang juga ibunya dibawa ke depan.

Shamilla berkata, “Segera laksanakan hukum cambuk 50 kali”. Sesaat sebelum algojo menjalankan cambukan yang pertama, Shamilla berkata: “Stop”.

Kemudian dia berkata kepada ibunya, “Ibu, aku menyayangi ibu, tapi keadilan harus ditegakkan.Harus ada hukuman untuk suatu pelanggaran.”

Tiba tiba ia memeluk ibunya dan berkata: “Ibu, aku menyayangi ibu, aku yang akan menggantikan ibu menerima hukuman ini.Ibu jangan mencuri lagi ya”. Kemudian dia membawa ibunya ke pinggir.

Shamilla berkata kepada algojo: “Algojo cambuk aku 50 kali”. Kemudian Shamilla dihukum cambuk 50 kali. Dengan demikian Shamilla sebagai pemimpin mempunyai kasih dan sekaligus menjalankan keadilan.

Wednesday, April 5, 2017

Bombay kehidupan

Menjelang istirahat, sang pengajar mengajak mahasiswanya untuk melakukan suatu permainan. “Siapakah orang yang paling penting dalam kehidupan kalian ?” Pengajar pun meminta bantuan seorang mahasiswa maju ke depan kelas, dan mulai melakukan permainan itu.
“Silakan tulis 20 nama yang paling dekat dengan kehidupan Anda saat ini”
Mahasiswa perempuan itu pun menuliskan 20 nama di papan tulis. Ada nama tetangga, teman sekantor, saudara, orang-orang terkasih, teman sekampusnya dan lainnya. Kemudian pengajar itu menyilakan memilih, dengan mencoret satu nama yang dianggap tidak penting.
Lalu mahasiswi itu mencoret satu nama, tetangganya.
Selanjutnya pengajar itu menyilakan lagi mahasiswinya mencoret satu nama yang tersisa, dan mahasiswi itu pun melakukannya, sekarang ia mencoret nama teman sekampusnya. Begitu seterusnya.
Sampai pada akhirnya di papan tulis hanya tersisa 3 nama. Nama orang tuanya, nama suami serta nama anaknya.
Di dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi. Semua mahasiswa mengalihkan pandangan ke pengajar. Menebak-nebak apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh pengajar itu. Ataukah, selesai sudah tak ada lagi yang harus di pilih.
Namun di keheningan kelas sang pengajar berkata: “Coret satu lagi!”
Dengan perlahan dan agak ragu siswi itu mengambil spidol dan mencoret satu nama. Nama orang tuanya.
“Silakan coret satu lagi!”
Tampak mahasiswi itu larut dalam permainan ini. Ia gelisah. Ia mengangkat spidolnya tinggi-tinggi dan mencoret nama yang teratas dia tulis sebelumnya. Nama anaknya. Seketika itu pun pecah isak tangis di kelas.
Setelah suasana sedikit tenang, pengajar itu lalu bertanya,
“Orang terkasih Anda bukan orang tua dan anak Anda? Orang tua yang melahirkan dan membesarkan Anda. Anda yang melahirkan anak. Sedang suami bisa dicari lagi. Mengapa Anda memilih sosok suami sebagai orang yang paling penting dan sulit dipisahkan?”
Semua mata tertuju pada mahasiswi yang masih berada di depan kelas. Menunggu apa yang hendak dikatakannya.
“Waktu akan berlalu, orang tua akan pergi meninggalkan saya. Anak pun demikian. Jika ia telah dewasa dan menikah, ia akan meninggalkan saya juga. Yang benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya.”
__________________________________
Kehidupan itu bagaikan bawang bombay. Ketika di kupas selapis demi selapis, akan habis. Dan adakalanya kita dibuat menangis.

Sunday, April 2, 2017

Malaikat kecil

Di suatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik. Seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip di sela-sela kepadatan kendaraan di sebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta.

Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda. Sambil membagikan bungkusan tersebut, ia menyapa akrab setiap orang. Dari tukang koran, penyapu jalan, tuna wisma, sampai pak Polisi.

Pemandangan itu membuatku tertarik. Pikiranku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya. Apakah dia berjualan? Kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??

Untuk membunuh rasa penasaranku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai di seberang jalan, setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang.

“Dek, boleh kakak bertanya?”

“Silahkan Kak”

“Kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ke tukang koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan pak Polisi, itu apa?”

“Oh itu bungkusan nasi dan sedikit lauk Kak. Memang kenapa Kak ?” Dengan sedikit heran, sambil ia balik bertanya.

“Oh…tidak. Kakak cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu. Kelihatan kamu sudah lama kenal dengan mereka?”

Lalu, adik kecil itu mulai bercerita,

“Dulu! Aku dan ibuku sama seperti mereka, hanya seorang tuna wisma. Setiap hari bekerja hanya mengharapkan belas kasihan banyak orang. Dan seperti Kakak ketahui hidup di Jakarta begitu sulit, sampai kami sering tidak makan. Waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan. Apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat-sangat sedih. Namun setelah ibuku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik.

Maka dari itu, Ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu. Jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup, kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka?

Yang ibuku selalu katakan, hidup harus berarti buat banyak orang. Karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa. Hanya satu yang kita bawa yaitu kasih kepada sesama serta amal dan perbuatan baik kita. Kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang, kenapa kita harus tunda ?

Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat. Hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta terus apa yang kita bawa?”.

Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hati. Saat itu juga aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini. Aku malu dan sangat malu.

Ya Tuhan, ampuni aku. Ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepadaMu. Hanya kasih yang sempurna serta iman dan pengaharapan kepada-Mulah yang dapat mengiringku masuk ke Surga. Terima kasih adik kecil ! Kamu adalah malaikatku yang menyadarkan aku dari tidur nyenyakku.

Author: Unknown

______________________________

Selagi masih ada kesempatan buat kita mendemonstrasikan kekuatan kasih Tuhan kepada sesama di sekitar kita, mengapa kita harus menundanya?

Sunday, March 5, 2017

Biskuit siapa ya?

Biskuit siapa ?

Karena datang terlalu pagi, ruang tunggu bandara masih agak sepi. Untuk mengisi waktu Maya mampir ke toko, membeli sebungkus biskuit marie dan sebuah buku. Tak berapa lama setelah duduk membaca, calon penumpang berdatangan masuk.

“Maaf, boleh saya duduk di situ?” Seorang pria ber-T-shirt putih mendekat sambil menunjuk tas Maya yang tergeletak di kursi samping.

“Silakan,” jawab Maya seraya menggeser tas ke tubuhnya.

Begitu duduk, pria itu mengambil sesuatu di sela kursi mereka,

“Apakah ini milik Anda?” Ia memberikan sisir warna merah kepada Maya. “Terima kasih, mungkin jatuh dari tas saya.”

Beberapa saat kemudian si pria mengambil sebuah biskuit dari tas. Maya sedikit terkejut. Pria itu tersenyum padanya. Maya menatap mata si pria, seakan bertanya berani benar kau. Maya kemudian merogoh tas dan mengambil biskuit juga, lantas kembali membaca bukunya. Mudah-mudahan ini akan mengakhiri “pencurian” biskuit yang dilakukan orang ini, pikir Maya.

Begitu biskuit di tangan habis, pria tersebut mengambil lagi. Maya mulai jengah melihat semua ini. Memang perkara sepele. Cuma biskuit yang nilainya tak seberapa. Namun itu amat menjengkelkan. Cewek ini nyaris tak tahan untuk memaki atau setidaknya menegur pria tersebut. Kemudian pria tersebut kembali merogoh tas, mengeluarkan sebungkus roti lalu menyerahkan kepada Maya, “Silakan lo, masih sisa satu.”

Perbincangan mereka terhenti oleh suara loudspeaker ruang tunggu yang meminta para penumpang masuk pesawat. Maya segera membereskan bawaannya, mengambil tas lalu berjalan menuju boarding gate.

Betapa terkejutnya ketika memasukkan buku ke dalam tas, ia melihat bungkusan biskuit marienya masih utuh belum dibuka sama sekali. Nah lo. Jadi biskuit yang ia makan tadi milik siapa? Raut muka cewek cantik ini memerah. Ia teringat niatnya untuk memaki-maki, sekaligus menyadari betapa baiknya orang itu.

____________________________________

Hahaha, jadi malu kan kalau kita selalu berprasangka buruk ?

Letakkan dulu semua emosi negatif kita sebelum mengambil sebuah keputusan dan tindakan. Jangan sampai sumbu kemarahan kita terlalu pendek sampai meledak ke orang lain, padahal itu adalah kesalahan kita sendiri..